Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2014

Pasangan Serasi H. Abdullah Machrus dan Hj.Tadzkiroh

Keluarga Besar Alm. H.Abdullah bin Machrus (http://krapyak.org)
Keluarga H. Abdullah Machrus tinggal di Kota Batik Pekalongan, Sampangan Gang VI, Pekalongan. Wafat pada Jum’at (7/2-014), berselang lima hari menyusul istri tercintanya, Hj. Tadzkiroh yang berpulang terlebih dahulu pada Senin (3/2-2014).

Suaramerdeka.com mewartakan bahwa pada tahun 2007 Alm. H. Abdullah Machrus menjadi pemenang Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan Provinsi Jateng 2007. Penghargaan diserahkan Gubernur Jateng H Mardiyanto di Hotel Grasia, Semarang.

Menurut H Abdullah Machrus, di antara tujuh anaknya itu, dua di antaranya menempuh S2 di UI Jakarta yakni HM Machrus Abdullah LC, dan Hj Aliyatul Maula SPsi menempuh S2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

''Meski demikian, saya justru lebih bangga terhadap anak saya ketiga, yakni Hj Nurchasanah SAg karena sudah menjadi hafizah (hapal Alquran),'' kata Abdullah Machrus.

Apa alasan kebanggaan itu? Ia menyatakan untuk mendidik anak bisa meraih sarjana, tidaklah sesulit untuk bisa meraih hafiz. Karena itu, tidak heran jika kini anak ketiga tersebut menjadi guru di Ponpes Al Munawir Krapyak Yogyakarta.

''Prinsip saya, dalam mendidik anak itu harus sarjana plus santri atau santri plus sarjana. Alhamdulillah, harapan itu hampir tercapai,'' katanya.

Apa kunci sukses membentuk keluarga sakinah? Menurut dia, sebenarnya ada pada istrinya. ''Saya ini bekerja sebagai wiraswasta, sehingga seringkali ke luar kota. Kegiatan saya di bidang sosial seabrek, sehingga jarang sekali saya berada di rumah. Karena itu, pendidikan anak-anak itu sebagian besar karena peran ibu,'' tuturnya.

Dalam pembelajaran kepada anak, diakui, memang yang diutamakan adalah kedisiplinan dan kejujuran. Bagi dia, anak harus tahu kapan waktu untuk beribadah, belajar, bermain, dan membantu orang tua.

Sebagai orang tua, Machrus selalu mengingatkan pada anaknya untuk menjaga dan menunaikan salat lima waktu.

Bahkan juga mendorong anak-anaknya untuk shalat sunah seperti tahajud, duha, awwabin, dan rawatib.

Sebelum anaknya mengenal bangku sekolah, putra-putrinya dikenalkan pada Ponpes Sunan Bonang Sampangan (Pekalongan). Ketika memasuki sekolah MI, mereka sudah terbiasa dengan pelajaran agama Islam khususnya berkaitan dengan Alquran dan bahasa Arab.

Setelah tamat di MI, anak-anaknya menjadi santri di ponpes lain saat melanjutkan sekolah di MTs/SMP dan Aliyah/SMA.

Di antara ponpes yang menjadi tempat mendidik agama anak-anaknya adalah Ponpes Al Hikmah Pati, Ponpes Al Islah Putra dan Al Ishom Putri, Mayong Jepara, Ponpes Maunah Sari Kediri, Jatim, serta beberapa ponpes di Jakarta dan Yogyakarta.

''Anak-anak itu, mondok di Ponpes sekaligus juga sekolah umum. Dengan demikian, mereka memiliki dasar dan bekal ilmu agama yang kuat,'' katanya.

Peninggalan Alm. H. Abdullah Machrus yang paling dikenali adalah bangunan masjid Machrus Al Husein yang dikelola Yayasan Al Fairus.  Selain bangunan masjid, Yayasan Al Fairus juga dilengkapi, pertokoan dan lain-lain, sehingga nantinya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pemeliharaan masjid itu sendiri.

Lokasinya yang strategis di jalur pantura Jalan Raya Baros Pekalongan, masjid ini menjadi daya tarik umat Islam yang sedang dalam perjalanan untuk mampir shalat. Model bangunannya sangat bagus ala masjid Nabawi, maka tidak aneh jika masjid ini menjadi tempat persinggahan para wisatawan ziarah yang menuju ke Pekalongan.


foto Masjid Al Fairus (alfairuspekalongan.blogspot.com)
Dalam Simbi.kemenag.go.id, Masjid Al Fairus tercatat memiliki deskripsi :
ID Masjid     :     01.4.14.34.02.000001
Luas Tanah     :     6.500 m2
Status Tanah     :     Wakaf
Luas Bangunan     :     5.603 m2
Tahun Berdiri     :     2006
Daya Tampung Jamaah   :     1.000

Fasilitas     :    
Internet Akses, Parkir, Taman, Gudang, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Toko, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah

Kegiatan     :    
Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu

Jumlah Pengurus     :     75 orang
Jumlah IMAM  10 orang dan   KHATIB 10 orang.

Masjid Al-Fairuz dibangun atas inisiatif dari Bapak H. Abdullah Machrus karena kepedulian dan keinginan beliau untuk membangun masjid karena di sepanjang Jl. Raya Baros tidak ada masjid yang strategis untuk tempat transit bagi para musafir yang ingin beristirahat dan sholat di masjid tersebut.

Masjid Al-Fairuz dibangun tahun 2002 yang pada peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Prof. DR. H. Said Agil Al-Munawwar, Bapak Menteri Agama RI pada waktu itu yang dihadiri juga 'ulama-'ulama kharismatik dan tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat.

Kegiatan/aktifitas masjid sama seperti masjid-masjid lainnya yaitu adanya pelaksanaan sholat fardhu dan sholat Jum'at, namun khususnya untuk pada tiap-tiap bulan Romadlon setiap tahunnya diadakan buka bersama/ta'jil ala Madinah (yang diawali dengan dengan minum Air zam-zam dan kurma), pembagian zakat dan juga  kegiatan pada hari-hari besar Islam, seperti pelaksanaan sholat Idul Fitri, sholat Idul Adha dan kegiatan keagamaan lainnya termasuk Tabligh Akbar.

Sumber :
http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0603/19/dar9.htm
http://suaramerdeka.com/harian/0707/17/nas07.htm
http://krapyak.org/2014/02/09/keluarga-krapyak-turut-bela-sungkawa-atas-wafatnya-h-abdullah-mahrus-hj-tadzkiroh/
http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/488/?tipologi_id=5 
http://alfairuspekalongan.blogspot.com Baca Selengkapnya.....

H. Achmad Djunaid

Mengenang Almarhum H. Achmad Djunaid, Tokoh Koperasi dari Pekalongan.

Generasi muda koperasi, mungkin tak pernah mengenal H. Ahmad Djunaid, yang meninggal dunia tahun 1982. Tak demikian dengan tokoh tua yang berkiprah di koperasi, misalnya di Jakarta, setidaknya pasti pernah mendengar akan namanya. Apalagi di tanah kelahirannya-Pekalongan, tentu tidak asing lagi.

Djunaid, yang punya keturunan sepuluh orang putra-putri serta sejumlah cucu, semasa hidupnya berkiprah di koperasi, sampai akhir hayatnya. Ada tiga koperasi sekaligus dipimpinnya sejak tahun 1952 hingga tahun 1982. Dua di Pekalongan, yaitu Koperasi Batik PPIP (Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan), Koperasi Simpan Pinjam Jasa (Kospin Jasa), dan satu di Jakarta, Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI).

Dua diantara yang pernah dipimpinnya ini, telah tumbuh menjadi koperasi-koperasi raksasa dilihat dari besar asetnya. GKBI misalnya, selain memiliki sebuah gedung pencakar langit betingkat 34, di Jl. Sudirman Jakarta Pusat, juga punya selusin pabrik tekstil yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Cirebon, Pekalongan, Batang dan Yogyakarta. Asetnya sudah mencapai tiga triliun rupiah, dan merupakan koperasi paling kaya di tanah air.

Begitu pula dengan Kospin Jasa, yang dulu pendiriannya diprakarsai beliau, merupakan koperasi simpan pinjam terbesar di Nusantara. Kantor cabangnya tak kurang dari 57 unit, tersebar mulai dari Banten hingga di Jawa Timur. Asetnya sudah menunjuk angka satu triliun rupiah.

Uniknya, dua koperasi maha besar ini, justru dipimpin oleh dua orang generasi penerusnya. Yakni Noorbasha Djunaid (putra pertama) di GKBI dan A. Zaky Arslan Djunaid (putra ketiga) di Kospin Jasa. Lintas tiga generasi telah terjadi di keluarga Djunaid. Sebab satu diantara cucunya, yaitu Andi-putra Zaky Arslan juga mengikuti jejak kakeknya, dan sekarang memimpin Kospin Jasa, cabang Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Djunaid, juragan batik di Pekalongan yang lahir 17 Agustus tahun 1921, memulai karirnya di koperasi, dengan jalan mendirikan Primer Koperasi Batik PPIP tahun 1952. Sukses memimpin koperasi ini, menghantarkannya menjadi orang nomor satu di koperasi tingkat nasional GKBI tahun 1957, dan berlanjut hingga tahun 1978. Dalam polesan tangannyalah GKBI pertama kali melambung menjadi pelaku ekonomi handal dibidang perdagangan tekstil.

Kepiawaiannya melobi para petinggi negara, terutama Wakil Presiden Bung Hatta, yang juga Bapak Koperasi, telah menghantarkan GKBI ketiban durian runtuh. Oleh pemerintah ditunjuk menjadi pelaku importir tunggal tekstil, terutama untuk bahan baku kain mori, serta obat-obatan yang berkaitan dengan pembuatan tekstil. Pada dekade lima hingga tahun tujuhpuhan GKBI sudah masuk perusahaan papan atas. Di mana-mana pabrik tekstilnya ada. Sebut saja misalnya PT Medarindoteks, PT Primissima (keduanya di Yogyakarta), PT Dainichi dan PT Promatexco di Batang, itu didirikan semasa masih kepemimpinannya. Melalui kejayaan GKBI, primer koperasi batik anggotanya turut pula menikmati manisnya perdagangan tekstil.

Ibnoe Soedjono, Dirjen Koperasi waktu itu bercerita, GKBI bisa menimbun harta kala itu, tak terlepas dari andil besar Djunaid. Buah pikirannya yang cukup brilian, telah membawa GKBI tumbuh kokoh tak tergoyahkan. Merasa monopoli importir tunggal tidak selamanya dinikmati, sejak pagi-pagi Djunaid sudah mengantisipasinya. Kesempatan yang diberikan, memang tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Sari madunya sempat di endapkannya untuk bekal dikemudian hari.

Kalaupun kemudian GKBI sempat jatuh-bangun, dan nyaris asetnya disita akibat terlilit hutang, setelah beliau meninggal dunia, itu merupakan kecelakaan ekonomi di luar jangkauan. Yang pasti, GKBI sekarang ini ditangan generasi penerusnya terus menanjak bertengger di singgasana.

Djunaid telah mewariskan tatanan ekonomi kerakyatan yang monumental berbasis koperasi. Berkat kebijakannya mengatur penyaluran bahan baku batik kepada anggotanya, koperasi-koperasi batik di mana-mana mampu mendirikan pabrik-pabrik Cambrics. Soal pabrik itu kini banyak menjadi besi tua, tuntutan zamanlah yang menghendakinya.

Dimata Ibnoe Soedjono, Djunaid yang sudah dikenalnya sejak masih sekolah di Pekalongan, adalah “orang kuat”. Seorang tokoh koperasi yang tetap konsisten berjalan dikoridornya. Dalam menjalankan usaha koperasi, tidak sekalipun melanggar rambu-rambu, sesuai jatidirinya. “Sesungguhnya, kita telah kehilangan seorang panutan dibidang koperasi” ujarnya.

Orang pertama dari gerakan koperasi yang pernah memperoleh bintang jasa dari pemerintah R.I. berupa Satya Lencana Pembangunan adalah Ahmad Djunaid. Kata Ibnoe, dia pulalah yang waktu itu mengusulkannya, mengingat jasa-jasa beliau yang memang sukses mengembangkan koperasi. Bintang jasa itu diperoleh tahun 1972. Djunaid adalah juga satu di antara penerima penghargaan Hatta Nugraha.

Sisi lain yang juga patut dikenang dari beliu, adalah buah pikiran yang mempersatukan tiga etnis di Pekalongan. Pribumi, Cina dan Arab diajak bersatu padu - berhimpun dalam wadah koperasi. Itulah Kospin Jasa, koperasi simpan pinjam paling populer di tanah air. Hingga kini tiga suku bangsa ini tetap mewarnai keanggotaan koperasi ini. “Termasuk dalam struktur kepengurusannya” tutur Sachroni, Sekretaris Umum Kospin Jasa.

Djunaid memang pantas jadi panutan. Meskipun kaya dan pebisnis ulung, ia juga seorang muslim yang soleh. Sebagai gambaran, karyawan yang menerima gaji, sebelum dibawa ke rumah selalu disarankannya untuk menyisihkan zakat. Hal senada juga diutarakan oleh Rofiqur Rusdi, Sekretaris Koperasi Batik PPIP yang juga didirikannya, sejumlah aset koperasi ini berupa bangunan dan tanah diberikan untuk pendidikan muslim. Ada Madrasah, SMU Muslim, TK Muslim dan tempat ibadah.

Djunaid yang punya tujuh saudara kandung dari ayah bernama Nurwiryo Atmojo dan ibu Munjiati, adalah pemuda pejuang, yang ikut memanggul senjata zaman kemerdekaan. Semasa hidupnya, sejumlah negara telah dikunjunginya demi mengembangkan perkoperasian. Antara lain Amerika Serikat, Swedia, Denmark, Jerman, Norwegia, Saudi Arabia dan negara-negara Asean.

Sumber : http://achmad-djunaid.blogspot.com/ Baca Selengkapnya.....

Hoegeng Imam Santoso

Jenderal Polisi (Purn.) (Alm.) Hoegeng Imam Santoso (lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 – meninggal 14 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah salah satu tokoh kepolisian Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5 yang bertugas dari tahun 1968 - 1971. Hoegeng juga merupakan salah satu penandatangan Petisi 50.

Latar belakang

Hoegeng masuk pendidikan HIS pada usia enam tahun, kemudian melanjutkan ke MULO (1934) dan menempuh sekolah menengah di AMS Westers Klasiek (1937). Setelah itu, ia belajar ilmu hukum di Rechts Hoge School Batavia tahun 1940. Sewaktu pendudukan Jepang, ia mengikuti latihan kemiliteran Nippon (1942) dan Koto Keisatsu Ka I-Kai (1943). Setelah itu ia diangkat menjadi Wakil Kepala Polisi Seksi II Jomblang Semarang (1944), Kepala Polisi Jomblang (1945), dan Komandan Polisi Tentara Laut Jawa Tengah (1945-1946). Kemudian mengikuti pendidikan Polisi Akademi dan bekerja di bagian Purel, Jawatan Kepolisian Negara.

Di luar dinas kepolisian Hoegeng terkenal dengan kelompok pemusik Hawaii, The Hawaiian Seniors. Selain ikut menyanyi juga memainkan ukulele.

KarierSaat menjadi Kapolri Hoegeng Iman Santoso melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Pada masa jabatannya terjadi perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).

Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat. Dari situ, dia menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952). Lalu menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminil Kantor Polisi Sumatera Utara (1956) di Medan. Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara (1960), Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri luran Negara (1965), dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966. Setelah Hoegeng pindah ke markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak (1966), dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi juga masih dalam 1966. Terakhir, pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969, namanya kemudian berubah menjadi Kapolri), menggantikan Soetjipto Joedodihardjo. Hoegeng mengakhiri masa jabatannya pada tanggal 2 Oktober 1971, dan digantikan oleh Drs. Mohamad Hasan.

Sumber : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Baca Selengkapnya.....

Rabu, 21 November 2012

Muda Bahagia Tua Kaya Raya

Masa remaja yang bahagia cenderung menjadi kaya di saat dewasa. Penyataan ini muncul dari hasil penyelidikan mendalam yang dilakukan Dr Jan-Emmanuel De Neve (UCL Political Science) dan Profesor Andrew Oswald (University of Warwick) setelah menganalisis data dari 15.000 remaja dan dewasa berusia muda di Amerika Serikat.


Fakta penelitian menunjukkan bahwa mereka yang pada masa remaja memiliki kepuasan hidup sebagai indikator/ukuran teknis kebahagiaan ternyata mempunyai efek positip dan dampak signifikan untuk meraih tingkat pendapatan dan kekayaan yang lebih  tinggi di kemudian hari.

Studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar orang-orang bahagia lebih mungkin untuk mendapatkan gelar, mencari pekerjaan, dan mendapatkan promosi lebih cepat daripada rekan-rekan mereka yang murung.

Peneliti memberikan perhatian melalui data terhadap kasus saudara kandung, menunjukkan bahwa meski anak-anak tumbuh dalam keluarga yang sama, anak-anak bahagia cenderung lebih mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Hal ini ikut mempengaruhi juga faktor-faktor penting dalam kehidupannya, seperti pendidikan, kesehatan, variasi genetis, IQ, kepercayaan diri, dan kebahagiaan itu sendiri.

Para peneliti juga mempelajari bagaimana kebahagiaan dapat mempengaruhi pendapatan. Uji mediasi mengungkapkan efek langsung serta efek tidak langsung yang membawa pengaruh kebahagiaan terhadap pendapatan. Jalur mediasi ini signifikan termasuk dalam hal memperoleh gelar dan pekerjaan, derajat yang lebih tinggi dari optimisme dan extraversion, dan berkurangnya neurotisisme.

Dr.De Neve mengatakan "Temuan ini memiliki implikasi penting bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum".
Untuk para akademisi mereka mengungkapkan kemungkinan kuat hubungan kausalitas terbalik antara pendapatan dan kebahagiaan, suatu hubungan yang sebagian besar telah diasumsikan searah dan kausal Untuk pembuat kebijakan, mereka menyoroti pentingnya general well-being (GWB), bukan sekedar kebahagiaan dalam konteks pandangan umum yang berasal dari pengaruh ekonomi maupun GDP.

"Mungkin yang paling penting, untuk masyarakat umum dan orang tua pada khususnya, temuan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan emosional anak-anak dan remaja merupakan kunci keberhasilan masa depan mereka, namun alasan lain guna memastikannya perlu menciptakan lingkungan rumah yang sehat secara emosional", ujar Neve.

Sumber:
artikel : sciencedaily.com
foto : nataliaph.com
Baca Selengkapnya.....

Jumat, 16 November 2012

Makna Keutamaan Keluarga

Menurut Dr. Denise Chranowski hidup bersama dalam satu keluarga di Amerika menjadi masalah yang rumit. Kerumitan yang terjadi bukannya karena masalah ekonomi melainkan lebih pada masalah kesehatan yang sering ditanggapi secara ekstrim oleh manusia lanjut usia.

Tidak demikian halnya bagi kehidupan keluarga di Italia, Costa Rica, Jepang, Cina dan negara-negara Asia lainnya yang tidak menjadi masalah orang tua hidup bersama dengan anak-anak. Mereka memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dalam hidup mereka. Dalam kondisi orang tua dan kakek nenek kita yang sehat seperti itu maka kita tidak akan pernah ragu-ragu membawa mereka ke rumah kita.Jika keluarga merupakan prioritas kepentingan hidup kita, maka jadikanlah keluarga di urutan pertama untuk mencurahkan perhatian.

Dr. Denise Chranowski, memberikan 5 cara agar hidup bersama keluarga menjadi lebih istimewa, yaitu :

1. Agendakan makan bersama satu keluarga untuk waktu tertentu agar dapat berkumpul bersama. Misalnya setiap hari Minggu, atau setiap hari ulang tahun anggota keluarga dapat dijadikan moment makan bersama.

2. Dapatkan rumah yang lebih kecil. Di Amerika banyak orang yang mampu tinggal di rumah yang jauh lebih besar daripada yang dibutuhkan. Rumah yang besar lebih memperbesar peluang untuk tidak selalu bertemu antar anggota keluarga meski dalam satu rumah. Bandingkan rumah Anda sekarang dengan rumah orangtua apakah lebih besar? Dengan rumah yang lebih kecil sesuai kebutuhan akan saling menjada kedekatan keluarga. Anak-anak dapat melakukan pekerjaan rumah mereka di ruang makan sekaligus 'ruang keluarga' dan ruang bertemu bersama.

3. Batasi kegiatan anak-anak Anda. Aturan bisa saja satu kegiatan per anak. Dan kita tetap berpegang pada aturan tersebut. Semakin banyak kegiatan keluar dari anak-anak akan semakin sulit kita dekat dengannya.

4. Melakukan ritual bersama dengan keluarga dan keluarga dekat. Anak-anak menyukai acara berkumpul dengan keluarga apabila acara dikemas dengan baik dan tidak menjadi membosankan.

5. Saling menyapa anggota keluarga lain yang jauh atau sedang diluar rumah meskipun hanya dengan telepon. Sapaan ini menjadi sarana komunikasi dan mendekatkan diri antar sesama keluarga.

Bagaimana dengan sosial budaya bangsa kita. Tentunya 5 cara tips Dr. Denise Chranowski sudah menjadi kelaziman dan kebiasaan bagi masyarakat kita. Sehingga silaturahmi, berkumpul bersama keluarga, sudah bukan hal asing. Bahkan puncak silaturahmi keluarga dapat terjadi pada saat Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, semua keluarga berusaha kembali mudik ke tempat asal mereka dibesarkan untuk bertemu dengan sanak keluarga.

Pertemuan keluarga besar satu rumpun yang digelar oleh sebagian masyarakat juga sebagai upaya untuk saling mendekatkan, menyatukan dan menunjukkan kepedulian antar sesama anggota rumpun keluarga dapat saling berbagi dan mencurahkan perhatiannya.

Di jawa ada pepatah "mangan ora mangan waton kumpul", "ngumpulake balung pisah", menjadi cerminan semangat besarnya kekeluargaan. Tradisi bangsa ini kaya dengan upacara adat dan pertemuan yang bersifat religius maupun sosial dengan dihadiri hampir sebagian besar anggota keluarga, kerabat dan tetangga untuk saling peduli.

Tradisi pondok santri (pesantren) tempat siswa memperdalam ilmu agama sekaligus mendapatkan ilmu pengetahuan lainnya menjadi basis nyata "keluarga" dalam konteks diluar rumah yang dibangun dengan sentuhan antar pribadi sehingga terdapat ikatan batin yang kuat antara satu dengan lainnya untuk menggantikan peran keluarga yang sebenarnya, karena mereka harus meninggalkan rumah dan keluarga guna menempuh ilmu.

Hal lain yang dapat diamati tradisi hajatan dan kenduri yang selalu antusias dihadiri kerabat, saudara, tetangga untuk ikut hadir. Demikian pula saat terjadi musibah dan kematian keluarga, kehadiran saudara, kerabat dan tetangga menjadi hal yang dijunjung tinggi dalam interaksi sosial masyarakat kita.

Dengan mengamati seluruh sarana komunikasi sosial antar keluarga dan internal keluarga yang berada di alam nyata (bukan dunia maya) tidak ada alasan kita untuk menjadi kesepian, tercampak, atau merasakan kesendirian. Sebagai mahluk sosial, pastilah setiap orang membutuhkan kehadiran orang lain agar dapat hidup secara normal. Orang lain yang terdekat tentu saja adalah keluarganya, dan selanjutnya dapat saja kerabat, tetangga, teman kerja, teman sekolah dan siapapun selama dapat mengerti dan memahami diri kita seutuhnya tentu akan akhirnya akan menjadi seperti keluarga bagi kita.

Coba renungkan bukankah "Istri" atau "Suami" kita pada mulanya bukanlah bagian dari keluarga bahkan sudah seharusnya bukan berasal dari sedarah sekeluarga untuk mencegah incest (perkawinan sedarah), hingga akhirnya menjadi orang yang paling dekat dengan kita dikarenakan ikatan perkawinan. Mereka telah menjadi anggota keluarga yang paling inti dan paling dekat (intim) dengan kita.
Baca Selengkapnya.....